Jumat, 15 Desember 2017

TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI, FREKUENSI RELATIF DAN KUMULATIF, HISTOGRAM, POLIGON FREKUENSI, DAN OGIVE


TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI, FREKUENSI RELATIF DAN
KUMULATIF, HISTOGRAM, POLIGON FREKUENSI, DAN OGIVE

1. Tabel Distribusi Frekuensi
Data yang berukuran besar (n  30) lebih tepat disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi, yaitu cara penyajian data yang datanya disusun dalam kelas-kelas tertentu.
Langkah-langkah penyusunan tabel distribusi frekuensi adalah sebagai berikut.
a. Langkah pertama menentukan jangkauan  J yaitu selisih antara nilai maksimal dan
nilai minimal.
Langkah kedua menentukan banyak kelas K yang terbentuk yaitu dengan
menggunakan rumus "Sturgess" yaitu: K 13,3logn dengan n adalah banyak data.
Banyak kelas harus merupakan bilangan bulat positif hasil pembulatan.
b. Langkah ketiga menentukan panjang interval kelas I  dengan menggunakan rumus:
J
I
K

c. Langkah keempat menentukan batas-batas kelas. Data terkecil harus merupakan batas
bawah interval kelas pertama atau data terbesar adalah batas atas interval kelas
terakhir.
d. Langkah kelima memasukkan data ke dalam kelas-kelas yang sesuai dan menentukan
nilai frekuensi setiap kelas dengan sistem turus.
e. Langkah keenam menuliskan turus-turus dalam bilangan yang bersesuaian dengan
banyak turus.
Ingatlah:
Menentukan banyak kelas interval dengan aturan Sturges dimaksudkan agar interval tidak
terlalu besar sebab hasilnya akan menyimpang dari keadaan sesungguhnya. Sebaiknya, jika
interval terlalu kecil, hasilnya tidak menggambarkan keadaan yang diharapkan.
Contoh7.1.4 :
Seorang peneliti mengadakan penelitian tentang berat badan dari 35 orang mahasiswa
tingkat II Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar.
Data hasil penelitian itu (dalam kg) disajikan berikut ini:
48 32 46 27 43 46 25 41 40 58 16 36
21 42 47 55 60 58 46 44 63 66 28 56
50 21 56 55 25 74 43 37 51 53 39
Sajikan data tersebut ke dalam tabel distribusi frekuensi.



Jawab :
a. Jangkauan  J  Xm  Xn 7416 58.
b. Banyak kelas K 13,3logn13,3log356,09513,3log356,095. Banyak
kelas dibulatkan menjadi "6".
c. Panjang interval kelas I  adalah
58
9,67
6
J
I
K
   . Panjang interval kelas dibulatkan
menjadi "10".
Dengan panjang interval kelas = 10 dan banyak kelas = 6, diperoleh tabel distribusi
frekuensi seperti pada Tabel 7.1.4. atau Tabel 7.1.5
Cara I:
Batas bawah kelas pertama diambil datum terkecil. Amati Tabel 7.1.4. Dari tabel tersebut
tampak bahwa frekuensi paling banyak dalam interval 46 - 55. Artinya, berat badan
kebanyakan berkisar antara 46 kg dan 55 kg
Tabel 7.4
Tabel Distribusi Frekuensi
Interval Kelas Turus Frekuensi
16–25 E 5
26–35 C 3
36–45 ED 9
46–55 EE 10
56–65 EA 6
66–75 B 2
Jumlah 35
Cara II:
Batas atas kelas terakhir diambil datum terbesar. Amati Tabel 5.
Tabel 7.5
Tabel Distribusi Frekuensi
Interval Kelas Turus Frekuensi
15–24 C 3
25–34 E 5
35–44 ED 9
45–54 EC 8
55–64 EC 8
65–74 B 2
Jumlah 35

Dari tabel tampak frekuensi paling sedikit dalam interval 65–74. Artinya, berat badan
antara 65 kg dan 74 kg ada 2 orang. Perhatikan interval kelas yang pertama, yaitu 15 – 24. 15
disebut batas bawah dan 24 disebut batas atas. Ukuran 15 – 24 adalah hasil pembulatan,
ukuran yang sebenarnya terletak pada 14,5 – 24,5. 14,5 disebut tepi bawah kelas (batas
bawah nyata) dan 24,5 disebut tepi atas kelas (batas atas nyata) pada interval kelas 15 – 24.
Dalam menentukan tepi bawah kelas dan tepi atas kelas pada setiap interval kelas,
harus diketahui satuan yang dipakai. Dengan demikian, untuk tepi bawah kelas adalah batas
bawah kelas dikurangi 1/2 satuan ukuran. Jadi, tepi kelas dari interval kelas 15 – 24 menjadi
14,5 – 24,5.




2. Frekuensi Relatif dan Kumulatif
Frekuensi yang dimiliki setiap kelas pada tabel distribusi frekuensi bersifat mutlak.
Adapun frekuensi relatif dari suatu data adalah dengan membandingkan frekuensi pada
interval kelas itu dengan banyak data dinyatakan dalam persen. Contoh: interval frekuensi
kelas adalah 20. Total data seluruh interval kelas = 80 maka frekuensi relatif kelas ini adalah
20 1
80 4
 , sedangkan frekuensi relatifnya adalah
1
100% 25%
4
  .
Dari uraian tersebut, dapatkah Anda menyatakan rumus frekuensi relatif? Cobalah
nyatakan rumus frekuensi relatif dengan kata-kata Anda sendiri.
Frekuensi relatif dirumuskan sebagai berikut:
frekuensi kelas ke-
Frekuensi relatif kelas ke- =
banyak data
k
k
Frekuensi kumulatif kelas ke-k adalah jumlah frekuensi pada kelas yang dimaksud
dengan frekuensi kelas-kelas sebelumnya.
Ada dua macam frekuensi kumulatif, yaitu
a. frekuensi kumulatif "kurang dari" ("kurang dari" diambil terhadap tepi atas kelas);
b. frekuensi kumulatif "lebih dari" ("lebih dari" diambil terhadap tepi bawah kelas).
1
Tepi atas = batas atas satuan pengukuran
2

1
Tepi bawah = batas bawah satuan pengukuran
2


Data adalah catatan atas kumpulan fakta

DATA
Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum,
berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan seharihari
data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah
hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka,
kata-kata, atau citra.

Berdasarkan keilmuan atau sudut pandang ilmiah, maka fakta dikumpulkan untuk
menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat
sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini
dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan
yang dikandungnya dinamakan klasifikasi.
Dalam pokok bahasan Manajemen Pengetahuan, data dicirikan sebagai sesuatu yang
bersifat mentah dan tidak memiliki konteks. Dia sekedar ada dan tidak memiliki signifikansi
makna di luar keberadaannya itu. Dia bisa muncul dalam berbagai bentuk, terlepas dari
apakah dia bisa dimanfaatkan atau tidak.

1. Jenis-Jenis Data
Data dapat dibagi menjadi berdasarkan:
a. Cara memperolehnya, maka data dapat dibagi menjadi: data primer adalah data yang
diambil secara langsung dari obyek penelitian oleh peneliti perorangan maupun
organisasi. misalnya: mewawancarai langsung pengunjung ApotikMalifah Farma untuk
meneliti kepuasan konsumen dan data sekunder data yang didapat tidak secara
langsung dari objek penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan data yang sudah
jadi yang dikumpulkan oleh pihak lain dengan berbagai cara atau metode baik secara
komersial maupun non komersial. Contohnya adalah pada peneliti yang menggunakan
data statistik hasil penelitian dari mahasiswa diploma tiga, strata satu, strata dua dan
strata tiga minat farmasi, laporan hasil penelitian pakar dan lain-lain.
b. Sumber data. Data ini terdiri atas: data internal yaitu data yang menggambarkan
situasi dan kondisi pada suatu organisasi secara internal, misalnya seorang mahasiswa
Diploma Tiga Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar ingin mengumpulkan data tentang
berat badan mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar dan data eksternal adalah
data yang menggambarkan situasi serta kondisi yang ada di luar organisasi tersebut,
misalnya mahasiswa Diploma Tiga Farmasi Poltekkes Makassar ingin mengumpulkan
data tentang kepuasan mahasiswa di Diploma Tiga Akademi Farmasi Sandi Karsa
Makassar.
c. Jenis data : data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka,
misalnya tinggi badan mahasiswa Diploma Tiga Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar
dan data kualitatif adalah data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang
mengandung makna atau dengan kata lain adalah bukan dalam bentuk angka,
misalnya warna, suku, bangsa, bahasa, agama, rasa dan lain sebagainya.
d. Sifat data : data diskrit adalah data didapatkan dari hasil menghitung yang hasil
akhirnya adalah bilangan bulat, misalnya jumlah mahasiswa, jumlah balita, jumlah
kuman dan data kontinu adalah data yang didapatkan dari hasil mengukur dan akhir
data menghasilkan bilangan bulat dan atau desimal, misalnya berat badan si A adalah
38,0 Kg dan berat badan si B adalah 39,65 Kg. Berat badan si A menghasilkan bilangan
bulat dan berat badan si B menghasilkan bilangan desimal (pecahan).
e. Waktu pengumpulannya : data crosssection(at a point of time) adalah data yang
menunjukkan titik waktu tertentu, misalnya laporan keuangan Apotik Sana Farma Makassar per 31 Desember 2014dan data berkala (timeseries) adalah data yang
nilainya menggambarkan sesuatu dari waktu ke waktu atau periode tertentu secara
historis,misalnya data timeseries adalah data perkembangan harga obat generik
dengan obat paten dari tahun 2010 sampai 2014.



2. Skala Pengukuran Data

Berdasarkan skala pengukurannya, data dibedakan menjadi data skala rasio (skala
nisbah), interval ( skala selang), ordinal (skala jenjang), dan skala nominal (skala kategorial).
Data skala rasio ciri-cirinya adalah nilainya bersifat absolut (mutlak) dan ciri-ciri yang
dipunyai skala interval, ordinal dan nominal juga dipunyai pada skala rasio serta dapat
dilakukan operasi matematika di dalamnya , /, ,  dan ^. Contoh data skala rasio
adalah berat badan dalam kilogram, tinggi badan dalam sentimeter dan sebagainya.
Berdasarkan tingkatannya data skala rasio paling tinggi, kemudian berturut-turut adalah
skala interval, ordinal dan yang paling rendah tingkatannya adalah data skala nominal.
Data skala interval mempunyai ciri jarak antara interval satu dengan lainnya adalah
sama dan nilainya tidak bersifat absolut. Ciri-ciri ordinal dan nominal juga ada pada data
skala interval serta dapat dilakukan operasi matematika , /, ,  dan ^. Contoh hasil
pengukuran terhadap 5 obyek menghasilkan angka 10, 8, 6, 4, dan 2. jadi selisih antara 10
dengan 8 adalah sama dengan selisih 8 dengan 6. Contoh lain adalah hasil pengukuran suhu
dengan skala celcius. Angka 00C berarti tidak menunjukkan suhunya tidak ada, misalnya
kalau diukur dengan skala Kelvin suhu tidak akan 0. Selisih antara 50C dengan 100C adalah
sama dengan selisih antara 100C dengan 150C.
Data skala ordinal, ordinal berasal dari kata ordo yang artinya tataan atau deret. Data
skala ordinal mempunyai arti tingkatan, deret atau jenjang, sifat nominalnya ada dan
nilainya tidak bersifat absolut. Contoh nilai mutu ujian terdiri atas 4, 3, 2, 1 dan 0. selisih
antara nilai mutu 4 dan 3 tidak sama dengan selisih nilai mutu 3 dan 2. Contoh lain hasil
kejuaraan tinju juara 1, 2, 3 dan 4. Selisih kemampuan antara juara 1 dengan 2 tidak sama
dengan selisih juara 2 dan 3. Data ini mempunyai ciri posisi data tidak setara dan tidak bisa
dilakukan operasi matematik di dalamnya , /, ,  dan ^.
Data skala nominal (kategorial), data tersebut dikategorikan misalnya jenis kelamin
terdiri atas laki-laki dan wanita. Tekanan darah dikategorikan menjadi normal dan tidak
normal. Cara pelayanan dibedakan menjadi luwes, sedang dan judes. Kategori suatu data
sering diberikan nama atau lambang misalnya jenis kelamin laki-laki (= 2) dan wanita ( = 1),
maka skala kategorial disebut pula sebagai skala nominal (berasal dari kata name =
nama).Data nominal mempunyai ciri posisi data setara dan tidak dapat dilakukan operasi
matematika , /, ,  dan ^.
Pembagian lain data dibedakan menjadi data diskrit dan data kontinu. Data diskrit
adalah data yang diperoleh dengan cara menghitung misalnya jumlah penduduk, jumlah
bidan, jumlah dokter dan lain-lain. Data diskrit tidak mungkin berbentuk pecahan.
Kebalikannya adalah data kontinu yaitu data yang diperoleh dengan cara mengukur misalnya
tekanan darah, kadar hemoglobin, berat badan dan sebagainya. Jadi data kontinu nilainya
bisa berbentuk pecahan ataupun bilangan bulat.

3. Penyajian Data
Ada dua cara penyajian data yang sering dilakukan, yaitu :
a. daftar atau tabel,
b. grafik atau diagram.
a. Penyajian Data dalamBentukTabel
Misalkan, hasil ujian akhir semester mata kuliah Bahasa Indonesia 37 mahasiswa
Jurusan Farmasi Poltekkes Makassar disajikan dalam tabel di bawah. Penyajian data pada
Tabel 7.1 dinamakan penyajian data sederhana. Dari Tabel 7.1, Anda dapat menentukan
banyak mahasiswa yang mendapat nilai 9, yaitu sebanyak 7 orang. Berapa orang mahasiswa
yang mendapat nilai 5? Nilai berapakah yang paling banyak diperoleh mahasiswa?
Jika data hasil ujian akhir semester Mata Kuliah Bahasa Indonesia itu disajikan dengan
cara mengelompokkan data nilai mahasiswa, diperoleh tabel frekuensi berkelompok seperti
pada Tabel 7.1.



b. Penyajian Data dalam Bentuk Diagram
Kerap kali data yang disajikan dalam bentuk tabel sulit untuk dipahami. Lain halnya jika
data tersebut disajikan dalam bentuk diagram maka Anda akan dapat lebih cepat memahami
data itu. Diagram adalah gambar yang menyajikan data secara visual yang biasanya berasal
dari tabel yang telah dibuat. Meskipun demikian, diagram masih memiliki kelemahan, yaitu
pada umumnya diagram tidak dapat memberikan gambaran yang lebih detail.
1) Diagram Batang
Diagram batang biasanya digunakan untuk menggambarkan data diskrit (data
cacahan). Diagram batang adalah bentuk penyajian data statistik dalam bentuk batang
yang dicatat dalam interval tertentu pada bidang cartesius.
Ada dua jenis diagram batang, yaitu
a) diagram batang vertikal, dan
b) diagram batang horizontal.
Contoh 7.1.1:
Selama 1 tahun, Apotik "Malifah Farma" mencatat keuntungan setiap bulan sebagai
berikut.


a) Buatlah diagram batang vertikal dari data tersebut.
b) Berapakah keuntungan terbesar yang diperoleh Apotik "Malifah Farma" selama 1
tahun?
c) Kapan Apotik "Malifah Farma" memperoleh keuntungan yang sama selama dua
bulan berturut-turut?
Penyelesaian :
a) Diagram batang vertikal dari data tersebut, tampak pada gambar berikut.




Gambar 7.1. Diagram batang vertikal Keuntungan Apotik "Malifah Farma" per
Bulan (dalam juta rupiah). Dari diagram tersebut tampak bahwa keuntungan terbesar yang diperoleh Apotik "Malifah Farma" selama 1 tahun adalah sebesar
Rp 6.200.000,00.
b) Apotik "Malifah Farma" memperoleh keuntungan yang sama selama dua bulan
beturut-turut pada bulan ke-11 dan ke-12.

2) Diagram Garis
Pernahkah Anda melihat grafik nilai tukar dolar terhadap rupiah atau pergerakan
saham di TV? Grafik yang seperti itu disebut diagram garis. Diagram garis biasanya
digunakan untuk menggambarkan data tentang keadaan yang berkesinambungan
(sekumpulan data kontinu). Misalnya, jumlah penduduk setiap tahun, perkembangan
berat badan bayi setiap bulan, dan suhu badan pasien setiap jam.
Seperti halnya diagram batang, diagram garis pun memerlukan sistem sumbu datar
(horizontal) dan sumbu tegak (vertikal) yang saling berpotongan tegak lurus. Sumbu
mendatar biasanya menyatakan jenis data, misalnya waktu dan berat. Adapun sumbu
tegaknya menyatakan frekuensi data. Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat
diagram garis adalah sebagai berikut.
a) Buatlah suatu koordinat (berbentuk bilangan) dengan sumbu mendatar
menunjukkan waktu dan sumbu tegak menunjukkan data pengamatan.
b) Gambarlah titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t.
c) Secara berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titik-titik koordinat tersebut
dengan garis lurus.

Contoh7.1.2 :
Berikut ini adalah tabel berat badan seorang bayi yang dipantau sejak lahir sampai
berusia 9 bulan.

Usia (bulan) 3,5 4 5,2 6,4 6,8 7,5 7,5 8 8,8 8,6
Berat Badan (kg) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
a) Buatlah diagram garisnya.
b) Pada usia berapa bulan berat badannya menurun?
c) Pada usia berapa bulan berat badannya tetap?

Jawab:
a) Langkah ke-1
Buatlah sumbu mendatar yang menunjukkan usia anak (dalam bulan) dan sumbu
tegak yang menunjukkan berat badan anak (dalam kg).
Langkah ke-2
Gambarlah titik koordinat yang menunjukkan data pengamatan pada waktu t
bulan.
Langkah ke-3
Secara berurutan sesuai dengan waktu, hubungkan titik-titik koordinat tersebut
dengan garis lurus.


Dari ketiga langkah tersebut, diperoleh diagram garis dari data tersebut tampak
pada Gambar 7.2.



Gambar 7.2
Diagram garis berat badan bayi sejak usia 0 – 9 bulan



b) Dari diagram tersebut dapat dilihat bahwa berat badan bayi menurun pada usai
8 sampai 9 bulan.
c) Berat badan bayi tetap pada usia 5 sampai 6 bulan. Darimana Anda memperoleh
hasil ini? Jelaskan.

Observasi: Interpolasi dan Ekstrapolasi Data
Anda dapat melakukan observasi terhadap kecenderungan data yang disajikan pada
suatu diagram garis. Dari observasi ini, Anda dapat membuat perkiraan-perkiraan
dengan cara interpolasi dan ekstrapolasi. Hal ini ditempuh dengan mengganti garis
patah pada diagram garis menjadi garis lurus. Interpolasi data adalah menaksir data
atau memperkirakan data di antara dua keadaan (misalnya waktu) yang berurutan.
Misalkan, dari gambar grafik Contoh soal 2. dapat diperkirakan berat badan bayi pada
usia 5,5 bulan. Coba Anda amati grafik tersebut, kemudian tentukan berat badan bayi
pada usia 5,5 bulan.
Ekstrapolasi data adalah menaksir atau memperkirakan data untuk keadaan (waktu)
mendatang. Cara yang dapat dilakukan untuk ekstrapolasi adalah dengan
memperpanjang ruas garis terujung ke arah kanan. Misalkan, dari gambar grafik soal 2.
dapat diperkirakan berat badan bayi pada usia 10 bulan. Jika garis lurus sudah
ditentukan, Anda dapat menentukan interpolasi data. Untuk ekstrapolasi data, Anda
harus berhati-hati. Menurut diagram garis, berapa kira-kira berat badan bayi pada usia
10 bulan? Berikan alasan Anda.

3) Diagram Lingkaran
Untuk mengetahui perbandingan suatu data terhadap keseluruhan, suatu data lebih
tepat disajikan dalam bentuk diagram lingkaran. Diagram lingkaran adalah bentuk
penyajian data statistika dalam bentuk lingkaran yang dibagi menjadi beberapa juring
lingkaran.
Langkah-langkah untuk membuat diagram lingkaran adalah sebagai berikut.
a) Buatlah sebuah lingkaran pada kertas.
b) Bagilah lingkaran tersebut menjadi beberapa juring lingkaran untuk
menggambarkan kategori datanya yang telah diubah ke dalam derajat.
Agar lebih jelasnya, pelajarilah contoh berikut.
Contoh7.1.3 :
Tabel berikut menunjukkan banyaknya mahasiswa Jurusan Farmasi di Poltekkes
Makassar menurut tingkatan pada tahun 2014.


Tingkat Banyaknya
I
II
III
150
98
82


a. Buatlah diagram lingkaran untuk data tersebut.
b. Berapa persen mahasiswa yang berada pada tingkat II ?
c. Berapa persen siswa yang berada pada tingkat III?
Jawab :
a. Jumlah seluruh siswa adalah 330 orang. Seluruh siswa diklasifikasikan menjadi 3
katagori: tingkat I = 150 orang, tingkat II = 98 orang, dan tingkat III = 82 orang.
• Tingkat I = (150/330) x 100% = 45,46%
Besar sudut sektor lingkaran = 45,46% × 360° = 163,66°
• Tingkat II = (98/330) x 100% = 29,7%
Besar sudut sektor lingkaran = 29,7% × 360° = 106,9°
• Tingkat III= (82/330) x 100% = 24,85%
Besar sudut sektor lingkaran = 24,85% × 360° = 89,45°
Diagram lingkaran ditunjukkan pada Gambar 7.3.



b. Persentase mahasiswa yang berada pada tingkat II adalah 29,7 %.
c. Persentase mahasiswa yang berada pada tingkat III adalah 24,85%.

POPULASI, SAMPEL DAN SAMPLING

POPULASI, SAMPEL DAN SAMPLING

Populasi adalah kumpulan atau totalitas suatu obyek yang akan diduga
karakteristiknya (parameternya). Berdasarkan jumlahnya, populasi dibedakan menjadi
populasi finit dan populasi infinit. Populasi finit adalah populasi yang jumlahnya terbatas
berarti bisa dihitung jumlahnya misalnya staf pengajar Jurusan Kebidanan Politeknik
Kesehatan Makassar, Jumlah bayi yang lahir di RS Pertiwi Makassar periode Januari –
Oktober 2005 dan sebagainya. Populasi infinit adalah populasi yang jumlahnya tidak
terbatas berarti tidak bisa ditentukan jumlahnya misalnya jumlah bakteri, virus, debu dan
sebagainya. Pendapat lain menyatakan bila jumlah populasi itu > 10.000 dimasukkan ke
dalam populasi infinit dan kebalikannya dimasukkan ke dalam populasi finit. Pemahaman
tentang populasi infinit dan finit ini penting, karena jumlah sampel salah satunya tergantung
kepada jenis populasi apakah infinit atau finit.
Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil untuk diketahui karakteristiknya dan
proses pengambilannya dinamakan sampling. Tentang macam-macam sampling biasanya
dibicarakan dalam metode penelitian. Bila seluruh populasi itu dijadikan sampel, maka jenis
sampel ini disebut total populasi dan proses pengambilan sampelnya disebut sensus.

Konsep Dasar Statistik

Konsep Dasar Statistik

A. DEFINISI STATISTIKA, STATISTIK DAN PARAMETER
Statistika menurut definisinya adalah ilmu pengetahuan yang membahas tentang caracara
pengumpulan data, penyajian data, pengolahan data dan penarikan kesimpulan
berdasarkan data tersebut.
Statistik menurut definisi yang benar adalah semua harga, nilai, data atau besaran
yang dipunyai sampel dan biasanya dilambangkan dengan huruf abjad Latin misalnya ratarata
hitung X  , simpangan baku S , variansi   2 S dan sebagainya. Statistik ini umumnya
merupakan penduga bagi parameter.
Parameter berasal dari kata para (sama dengan di samping) dan meter (sama dengan
suatu ukuran). Jadi parameter dapat diartikan suatu ukuran, besaran, data atau nilai yang
dipunyai populasi dan sulit untuk diukur. Parameter biasanya dilambangkan dengan huruf
abjad Yunani misalnya nilai rata-rata hitung () simpangan baku ( ) , variansi 2 ( ) dan
sebagainya.


B. PENGGOLONGAN STATISTIKA

Berdasarkan ruang lingkup penerapan statistika dalam penelitian, maka statistika
dapat digolongkan menjadi statistika deskriptif dan statistika inferensial (statistika induktif).
Statistika deskriptif adalah statistika yang membahas tentang cara-cara meringkas,
menyajikan mendeskripsikan suatu data dengan tujuan agar data tersebut mudah
dimengerti dan lebih mempunyai makna. Penyajian suatu data dapat berbentuk daftar
(tabel) dan dalam bentuk diagram (gambar). Deskripsi suatu data dinyatakan dalam bentuk
ukuran pemusatan misalnya rata-rata hitung, modus dan sebagainya. Bentuk lain adalah
ukuran letak misalnya median, kuartil dan sebagainya. Deskripsi lain adalah ukuran
penyebaran misalnya rentang, simpangan baku, koefisien keragaman dan sebagainya.
Statistika inferensial adalah statistika yang dipergunakan untuk menyimpulkan tentang
parameter (populasi) berdasarkan statistik (sampel) atau lebih di kenal untuk proses
generalisasi. Jadi dalam statistika inferensial diperlukan adanya suatu hipotesis.
Penggolongan lain berdasarkan manfaatnya, statistika dibedakan menjadi statistika
terapan yang membahas tentang penerapan statistika untuk menunjang ilmu-ilmu lainnya.
Berikutnya adalah statistika matematik yang membahas tentang perkembangan teori
statistika yang banyak bersifat matematik.
Penggolongan berikutnya berdasarkan asumsi atau syarat-syarat parameter dan skala
data yang akan dianalisis, terdiri atas statistika parametrik dan statistika nonparameterik.
Statistika parametrik memperhatikan tentang syarat-syarat atau asumsi parameter misalnya
variansi sama, data berdistribusi normal dan sebagainya. Data yang dianalisis pada statistika
parametrik skala pengukurannya adalah rasio atau interval.

Minggu, 03 Desember 2017

Teknik sampling

Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Jika sampling dilakukan dengan metode yang tepat, analisis statistik dari suatu sampel dapat digunakan untuk menggeneralisasikan keseluruhan populasi. Metode sampling banyak menggunakan teori probabilitas dan teori statistika.
Tahapan sampling adalah:
  • Mendefinisikan populasi hendak diamati
  • Menentukan kerangka sampel, yakni kumpulan semua item atau peristiwa yang mungkin
  • Menentukan metode sampling yang tepat
  • Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data)
  • Melakukan pengecekan ulang proses sampling

sumber:https://id.wikipedia.org/wiki

Statistika

Statistika


Statistika adalah ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Singkatnya, statistika adalah ilmu yang berkenaan dengan data. Istilah 'statistika' (bahasa Inggris: statistics) berbeda dengan 'statistik' (statistic). Statistika merupakan ilmu yang berkenaan dengan data, sedang statistik adalah data, informasi, atau hasil penerapan algoritma statistika pada suatu data. Dari kumpulan data, statistika dapat digunakan untuk menyimpulkan atau mendeskripsikan data; ini dinamakan statistika deskriptif. Sebagian besar konsep dasar statistika mengasumsikan teori probabilitas. Beberapa istilah statistika antara lain: populasi, sampel, unit sampel, dan probabilitas.

Statistika banyak diterapkan dalam berbagai disiplin ilmu, baik ilmu-ilmu alam (misalnya astronomi dan biologi maupun ilmu-ilmu sosial (termasuk sosiologi dan psikologi), maupun di bidang bisnis, ekonomi, dan industri. Statistika juga digunakan dalam pemerintahan untuk berbagai macam tujuan; sensus penduduk merupakan salah satu prosedur yang paling dikenal. Aplikasi statistika lainnya yang sekarang popular adalah prosedur jajak pendapat atau polling (misalnya dilakukan sebelum pemilihan umum), serta hitung cepat (perhitungan cepat hasil pemilu) atau quick count. Di bidang komputasi, statistika dapat pula diterapkan dalam pengenalan pola maupun kecerdasan buatan.

Sejarah

Penggunaan istilah statistika berakar dari istilah istilah dalam bahasa latin modern statisticum collegium ("dewan negara") dan bahasa Italia statista ("negarawan" atau "politikus").

Gottfried Achenwall (1749) menggunakan Statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi kegiatan analisis data kenegaraan, dengan mengartikannya sebagai "ilmu tentang negara (state)". Pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi "ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data". Sir John Sinclair memperkenalkan nama (Statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris. Jadi, statistika secara prinsip mula-mula hanya mengurus data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah setiap saat.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 statistika mulai banyak menggunakan bidang-bidang dalam matematika, terutama peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah, statistika inferensi, dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20 oleh [Ronald Fisher] (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). Penggunaan statistika pada masa sekarang dapat dikatakan telah menyentuh semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari astronomi hingga linguistika. Bidang-bidang ekonomi, biologi dan cabang-cabang terapannya, serta psikologi banyak dipengaruhi oleh statistika dalam metodologinya. Akibatnya lahirlah ilmu-ilmu gabungan seperti ekonometrika, biometrika (atau biostatistika), dan psikometrika.

Meskipun ada pihak yang menganggap statistika sebagai cabang dari matematika, tetapi sebagian pihak lainnya menganggap statistika sebagai bidang yang banyak terkait dengan matematika melihat dari sejarah dan aplikasinya. Di Indonesia, kajian statistika sebagian besar masuk dalam fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam, baik di dalam departemen tersendiri maupun tergabung dengan matematika.

Beberapa kontributor statistika

Carl Gauss
Blaise Pascal
Sir Francis Galton
William Sealey Gosset (dikenal dengan sebutan "Student")
Karl Pearson
Sir Ronald Fisher
Gertrude Cox
Charles Spearman
Pafnuty Chebyshev
Aleksandr Lyapunov
Isaac Newton
Abraham De Moivre
Adolph Quetelet
Florence Nightingale
John Tukey
George Dantzig
Thomas Bayes



Konsep dasar

erdapat bermacam-macam teknik statistik yang digunakan dalam penelitian khususnya dlam pengujian hipotesis.[1] Dalam mengaplikasikan statistika terhadap permasalahan sains, industri, atau sosial, pertama-tama dimulai dari mempelajari populasi. Makna populasi dalam statistika dapat berarti populasi benda hidup, benda mati, ataupun benda abstrak. Populasi juga dapat berupa pengukuran sebuah proses dalam waktu yang berbeda-beda, yakni dikenal dengan istilah deret waktu.

Melakukan pendataan (pengumpulan data) seluruh populasi dinamakan sensus. Sebuah sensus tentu memerlukan waktu dan biaya yang tinggi. Untuk itu, dalam statistika seringkali dilakukan pengambilan sampel (sampling), yakni sebagian kecil dari populasi, yang dapat mewakili seluruh populasi. Analisis data dari sampel nantinya digunakan untuk menggeneralisasi seluruh populasi.

Jika sampel yang diambil cukup representatif, inferensial (pengambilan keputusan) dan simpulan yang dibuat dari sampel dapat digunakan untuk menggambarkan populasi secara keseluruhan. Metode statistika tentang bagaimana cara mengambil sampel yang tepat dinamakan teknik sampling.

Analisis statistik banyak menggunakan probabilitas sebagai konsep dasarnya hal terlihat banyak digunakannya uji statistika yang mengambil dasar pada sebaran peluang. Sedangkan matematika statistika merupakan cabang dari matematika terapan yang menggunakan teori probabilitas dan analisis matematika untuk mendapatkan dasar-dasar teori statistika.

Ada dua macam statistika, yaitu statistika deskriptif dan statistika inferensial. Statistika deskriptif berkenaan dengan deskripsi data, misalnya dari menghitung rata-rata dan varians dari data mentah; mendeksripsikan menggunakan tabel-tabel atau grafik sehingga data mentah lebih mudah “dibaca” dan lebih bermakna. Sedangkan statistika inferensial lebih dari itu, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan prediksi observasi masa depan, atau membuat model regresi.

Statistika deskriptif berkenaan dengan bagaimana data dapat digambarkan dideskripsikan) atau disimpulkan, baik secara numerik (misalnya menghitung rata-rata dan deviasi standar) atau secara grafis (dalam bentuk tabel atau grafik), untuk mendapatkan gambaran sekilas mengenai data tersebut, sehingga lebih mudah dibaca dan bermakna.
Statistika inferensial berkenaan dengan permodelan data dan melakukan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data, misalnya melakukan pengujian hipotesis, melakukan estimasi pengamatan masa mendatang (estimasi atau prediksi), membuat permodelan hubungan (korelasi, regresi, ANOVA, deret waktu), dan sebagainya.



Metode Statistika

Dua jenis penelitian: eksperimen dan survei

Terdapat dua jenis utama penelitian: eksperimen dan survei. Keduanya sama-sama mendalami pengaruh perubahan pada peubah penjelas dan perilaku peubah respon akibat perubahan itu. Beda keduanya terletak pada bagaimana kajiannya dilakukan.

Suatu eksperimen melibatkan pengukuran terhadap sistem yang dikaji, memberi perlakuan terhadap sistem, dan kemudian melakukan pengukuran (lagi) dengan cara yang sama terhadap sistem yang telah diperlakukan untuk mengetahui apakah perlakuan mengubah nilai pengukuran. Bisa juga perlakuan diberikan secara simultan dan pengaruhnya diukur dalam waktu yang bersamaan pula. Metode statistika yang berkaitan dengan pelaksanaan suatu eksperimen dipelajari dalam rancangan percobaan (desain eksperimen).

Dalam survei, di sisi lain, tidak dilakukan manipulasi terhadap sistem yang dikaji. Data dikumpulkan dan hubungan (korelasi) antara berbagai peubah diselidiki untuk memberi gambaran terhadap objek penelitian. Teknik-teknik survai dipelajari dalam metode survei.

Penelitian tipe eksperimen banyak dilakukan pada ilmu-ilmu rekayasa, misalnya teknik, ilmu pangan, agronomi, farmasi, pemasaran (marketing), dan psikologi eksperimen.

Penelitian tipe observasi paling sering dilakukan di bidang ilmu-ilmu sosial atau berkaitan dengan perilaku sehari-hari, misalnya ekonomi, psikologi dan pedagogi, kedokteran masyarakat, dan industri.

Tipe pengukuran[sunting | sunting sumber]
Ada empat tipe skala pengukuran yang digunakan di dalam statistika, yaitu nominal, ordinal, interval, dan rasio. Keempat skala pengukuran tersebut memiliki tingkat penggunaan yang berbeda dalam pengolahan statistiknya.

Skala nominal hanya bisa membedakan sesuatu yang bersifat kualitatif atau kategoris, misalnya jenis kelamin, agama, dan warna kulit.
Skala ordinal selain membedakan sesuatu juga menunjukkan tingkatan, misalnya pendidikan dan tingkat kepuasan pengguna.
Skala interval berupa angka kuantitatif namun tidak memiliki nilai nol mutlak sehingga titik nol dapat digeser sesuka orang yang mengukur, misalnya tahun dan suhu dalam Celcius.
Skala rasio berupa angka kuantitatif yang memiliki nilai nol mutlak dan tidak dapat digeser sesukanya, misalnya adalah suhu dalam Kelvin, panjang, dan massa.



Teknik-teknik statistika

Beberapa pengujian dan prosedur yang banyak digunakan dalam penelitian antara lain:

Analisis regresi dan korelasi
Analisis varians (ANOVA)
khi-kuadrat
Uji t-Student


Statistika Terapan

Bebebarapa ilmu pengetahuan menggunakan statistika terapan sehingga mereka memiliki terminologi yang khusus. Disiplin ilmu tersebut antara lain:

Aktuaria (penerapan statistika dalam bidang asuransi)
Biostatistika atau biometrika (penerapan statistika dalam ilmu biologi)
Statistika bisnis
Ekonometrika
Psikometrika
Statistika sosial
Statistika teknik atau teknometrika
Fisika statistik
Demografi
Eksplorasi data (pengenalan pola)
Literasi statistik
Analisis proses dan kemometrika (untuk analisis data kimia analis dan teknik kimia)
Statistika memberikan alat analisis data bagi berbagai bidang ilmu. Kegunaannya bermacam-macam: mempelajari keragaman akibat pengukuran, mengendalikan proses, merumuskan informasi dari data, dan membantu pengambilan keputusan berdasarkan data. Statistika, karena sifatnya yang objektif, sering kali merupakan satu-satunya alat yang bisa diandalkan untuk keperluan-keperluan di atas.



Perhitungan statistika modern banyak dilakukan oleh komputer, dan bahkan beberapa perhitungan hanya dapat dilakukan oleh komputer berkecepatan tinggi, misalnya jaringan saraf tiruan. Revolusi komputer telah membawa implikasi perkembangan statistika pada masa mendatang, dengan penekanan baru pada statistika eksperimental dan empirik.

Jumat, 01 Desember 2017

PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI DAN PERANANNYA DALAM MENGATASI MASALAH KESEHATAN DI MASYARAKAT

PERKEMBANGAN EPIDEMIOLOGI DAN PERANANNYA DALAM MENGATASI MASALAH KESEHATAN DI MASYARAKAT


A.   Pengertian Epidemiologi
  1. Pengertian secara Umum
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu (Epi=pada, Demos=penduduk, logos = ilmu), dengan demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat.
2.  Definisi menurut para ahli
Banyak definisi tentang Epidemiologi, beberapa diantaranya :
a. W.H. Welch
Suatu ilmu yang mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan penyakit, terutama penyakit infeksi menular. Dalam perkembangannya, masalah yang dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena batasan epidemiologi menjadi lebih berkembang.
b. Last
Studi tentang distribusi dan determinan tentang keadaan atau kejadian yang berkaitan dengan kesehatan pada populasi tertentu dan aplikasi studi untuk menanggulangi masalah kesehatan.
c. Omran
Epidemiologi adalah suatu studi mengenai terjadinya distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya dan akibat-akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.
d. Azrul Azwar
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan pada sekelompok manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan.
B.     Perkembangan Ruang Lingkup Epidemiologi
Dewasa ini telah terjadi pergeseran pengertian dalam epidemiologi, yang dulunya lebih menekankan kepada penyakit menular ke arah masalah-masalah kesehatan dengan ruang lingkup yang sangat luas. Keadaan ini terjadi karena transisi pola penyakit yang terjadi pada masyarakat, pergeseran pola hidup, peningkatan sosial, ekonomi masyarakat dan semakin luasnya jangkauan masyarakat.
Mula-mula epidemiologi hanya mempelajari penyakit yang dapat menimbulkan wabah melalui temuan-temuan tentang jenis penyakit wabah, cara penularan dan penyebab serta bagaimana penanggulangan penyakit wabah tersebut. Kemudian tahap berikutnya berkembang lagi menyangkut penyakit yang infeksi non-wabah. Berlanjut lagi dengan mempelajari penyakit non infeksi seperti jantung, karsinoma, hipertensi, dll. Perkembangan selanjutnya mulai meluas ke hal-hal yang bukan penyakit seperti fertilitas, menopouse, kecelakkaan, kenakalan remaja, penyalahgunaan obat-obat terlarang, merokok, hingga masalah kesehatan yang sangat luas ditemukan di masyarakat. Diantaranya masalah keluarga berencana, masalah kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan sarana kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.
Di era modern dan perkembangan teknologi seperti sekarang ini memicu jangkauan epidemiolgi semakin meluas. Secara garis besarnya jangkauan atau ruang lingkup epidemiologi antara lain:
1. Epidemiologi Penyakit Menular
2. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
3. Epidemiologi Kesehatan Reproduksi
4. Epidemiologi Kesehatan Lingkungan
5. Epidemiologi Kesehatan Kerja
6. Epidemiologi Kesehatan Darurat
7. Epidemiologi Kesehatan Jiwa
8. Epidemiologi Perencanaan
9. Epidemiologi Prilaku
10. Epidemiologi Genetik
11. Epidemiologi Gizi
12. Epidemiologi Remaja
13. Epidemiologi Demografi
14. Epidemiologi Klinik
15. Epidemiologi Kausalitas
16. Epidemiologi Pelayanan Kesehatan
17. dan sebagainya.
Perkembangan epidemiologi sedemikian pesatnya merupakan tantangan bagi tenaga kesehatan yang harus lebih cermat dalam mengambil tindakan-tindakan yang tidak melenceng dari jangkauan tersebut. Adapun yang menjadi pemicu perkembangan pesat tersebut adalah perkembangan pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih yang menuntut peningkatan kebutuhan masyarakat utamanya dalam bidang kesehatan sehingga kehidupan masyarakat yang semakin kompleks. Selain itu, metode epidemiologi yang digunakan untuk penyakit menular dapat juga digunakan untuk penyakit non-infeksi. Apalagi dengan munculnya berbagai macam fenomena kesehatan seperti penyakit baru dan lama (prevalensi) mendorong penelitian juga semakin meningakat.
Pergeseran ini pula yang menyebabkan pergeseran pengertian/definisi dalam epidemiologi, yang tadinya hanya menekankan pada penyakit-penyakit menular, yang meliputi pencegahan, pemberantasan penyakit menular ke arah mempelajari masalah-masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat atau sekelompok manusia yang menyangkut frekuensi, distribusi masalah kesehatan dan fektor-faktor yang mempengaruhinya.
C.    Peranan Epidemiologi
Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan memanfaatkan data dari hasil pengkajian terhadap sekelompok manusia, apakah itu menyangkut masalah penyakit, keluarga berencana atau kesehatan lingkungan. Setelah dianalisis dan diketahui penyebabnya dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.
Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang masalah kesehatan dan penyebab dari masalah tersebut dengan cara menganalisis data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat. Dengan memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statistik, maka dapat dirumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan.
Dalam proses pembangunan kesehatan saat ini di butuhkan epidemiologi sebagai penyedia data base untuk mengetahui besaran masalah kesehatan. Analisis-analisis data kesehatan tersebut menjadi dasar pertimbangan dalam membuat perencanaan kesehatan. Namun, ada sebuah pertanyaan yang menjadi penting dalam proses perencanaan kesehatan ini. Perencanaan kesehatan, perlukah itu? Tentu ini bukan sebuah pertanyaan tapi tantangan membuat dua kata itu lebih berfungsi dan diindahkan. Selama ini rencana tinggal rencana tanpa ada indikator yang jelas dalam mencapai sebuah makna kemajuan. Seolah-olah cenderung hanya untaian kata yang tertulis legal di sebuah dokumen dan hanya dibuka saat ada perdebatan yang cenderung menguras segelinang energi yang tetesannya keluar sia-sia. Perencanaan kesehatan yang betul-betul berdasarkan realitas, itulah kemaknaan yang sebenarnya.
a.      Perencanaan Kesehatan
Perencanaan kesehatan perlu untuk dipikirkan ketepatan strateginya. baik dalam pelayanan promosi, preventif dan dari segi kuratif dan rehabilitatifnya. Semua orang yang terlibat dalam perencanaan kesehatan seharusnya tahu apa yang dibutuhkan dan diinginkan langsung oleh rakyat yang sebenarnya. Agar teori dan kenyataan dilapangan dapat berjalan sebagaimana seharusnya. Proses perencanaan kesehatan tidak terlepas pada isu strategis. Dimana terdapat beberapa komponen penting dalam mendukung terlaksananya program perencanaan kesehatan. Maka epidemiologi memiliki peran strategis untuk menetapakan sebuah kebijakan kesehatan yang termaktub dalam program-program kesehatan.
b.      Epidemiologi Perencanaan
Sebagaimana kita ketahui data dan informasi sebagai produk kegiatan Surveilans epidemiologi, merupakan instrumen pendukung untuk menentukan kebijakan, perencanaan dan penganggaran termasuk untuk pelaksanaan pengendalian faktor risiko. Berdasarkan pengamatan kita sehari-hari, pencatatan dan pelaporan yang mempunyai nilai strategis relatif belum optimal yang diakibatkan dari under recorded & reported, tidak tepat waktu, tidak adekuat, termasuk umpan balik secara berjenjang dari Pusat – Propinsi – Kab/Kota – Puskesmas tidak dilakukan secara baik dan tidak mempunyai mekanisme reward dan punishment.
Surveilans adalah rangkaian kegiatan pengumpulan data epidemiologis (untuk masalah kesehatan tertentu secara teratur dan terus menerus dari kegiatan rutin), dilakukan pengolahan data (koreksi/pemeriksaan, kompilasi, analisis dan interpretasi) sehingga menghasilkan informasi epidemiologis yang dapat dipakai oleh pihak yang membutuhkannya sebagai bahan untuk perencanaan atau tindakan maupun pengambilan keputusan (A. Ratgono, 2002).
c.       Perencanaan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat maka pemerintah, masyarakat serta bebagai elemen berpartisipasi dalam mencapai tujuan tersebut. Salah satu bentuk dukungan tersebut dapat terlihat dukungan pemerintah dengan memberikan prioritas yang tinggi dalam peningkatan kesehatan masyarakat, termasuk pelayanan kesehatan untuk rakyat. Oleh karena itu, pemerintah melakukan berbagai peningkatan dan perbaikan atas sistem, kebijakan, program sampai dengan layanan yang dilaksanakan pada tingkat masyarakat.
d.      Perkembangan Epidemiologi Perencanaan
Pemerintah, dalam hal ini Depkes, telah menetapkan prioritas pembangunan sektor kesehatan. Pertama adalah pemerintah benar-benar ingin meningkatkan pelayanan kesehatan untuk ibu dan anak. Kedua, meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin. Revitalisasi puskesmas, posyandu, kegiatan seperti pekan imunisasi, dihidupkan kembali di pedesaan dan hasilnya positif, termasuk pemberian asuransi kesehatan untuk masyarakt miskin agar mereka memiliki akses di dalam upaya pelayanan kesehatan bagi mereka.
Dalam mendukung upaya tersebut di perlukan sejumlah langkah ke depan untuk terus meningkatkan mutu dan jumlah tenaga kesehatan, baik paramedis, dokter maupun dokter-dokter spesialis baik melakukan pendidikan, pembinaan, dan pembinaan karier
Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat. Inisiatif yang dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan telah lama dilakukan. Berbagai upaya kesehatan berbasis masyarakat banyak didirikan, antara lain dalam bentuk Posyandu yang berjumlah 2622 yang terdiri dari 49,12% Posyandu Pratama, 35,85% Posyandu Madya, 13,58% Posyandu Purnama, dan 1,45% Posyandu Mandiri, Pondok bersalin desa (Polindes) 77, Pos Obat Desa (POD) 194, Taman Obat Keluarga (TOGA) 25070, Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK) 66, tapi pemberdayaan masyarakat dalam bentuk Warung Obat Desa belum ada. Pemberdayaan masyarakat dalam arti mengembangkan dan menumbuhkan prakarsa masyarakat yang lebih luas dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan yang terjadi selama ini belum terkoordinasi dengan baik, sehingga hasilnya menjadi kurang optimal. Disamping itu upaya menggerakkan partisipasi masyarakat yang dilakukan selama ini juga masih sebatas mobilisasi, sehingga tidak dapat menjamin keberlangsungannya. Pemberdayaan masyarakat dilaksanakan pula dalam berbagai bentuk, seperti Gebrak Malaria, Gerakan Sayang Ibu (GSI), Gerakan Terpadu TB-Paru dan lain- lain.
Epidemiologi mempunyai peranan yang penting dalam proses pengambilan keputusan, hal ini karena epidemiologi sebagai penyedia data base untuk mengetahui besaran masalah kesehatan.. analisis-analisis data tersebut dapat dijadikan dasar pertimbangan. Epidemiologi dalam tataran pengatur kebijakan untuk melakukan suatu proses perencanaan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan , yakni :
1)      Tersedianya dokumen sebagai penguat data bagi semua stake holder yang terlibat dalam dunia kesehatan. Serta adanya telaah kebijakan, sosialisasi, monitoring, dan evaluasi bagi kebijakan yang telah ditetapakan dalam bentuk perundang-undangan agar komitmen terhadap peningkatan kesehatan dapat terwujud.
2)      Mampu mempertajam analisis perencanaan kesehatan salah satunya dalam bentuk proses tanya jawab pada stake holder yang terlibat dalam kesehatan.
3)      Berpikirlah general atau makro untuk mendapatkan gambaran yang jelas terhadap permasalahan yang kita hadapi, namun berpikir mikro dan detail tetap kita butuhkan. Kapasitas dan kompetensi kita sebagai para profesional di bidangnya menuntut kita harus mampu menangkap dan mendeteksi sekecil apapun potensi masalah dan mencarikan solusi pemecahannya. Walaupun di dalam implementasinya kita harus bertindak strategis sesuai dengan skala prioritas dan sumber daya yang dimiliki.



sumber : https://dinkeskebumen.wordpress.com

DASAR EPIDEMIOLOGI : Pengertian dan Peranan Epidemiologi

DASAR EPIDEMIOLOGI

A. Pengertian dan Peranan Epidemiologi

Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani, Yaitu epi atau apon yang berarti "pada" atau "tentang", demos= people yang berarti penduduk, dan logio= knowledge yang berarti ilmu. Sehingga epidemiologi dapat diartikan: ilmu yang mempelajari kejadian/kasus yang terjadi pada penduduk/masyarakat.

Pada awal perkembangannya epidemiologi mempunyai pengertian yang sempit dianggap sebatas ilmu tentang epidemik. Dalam perkembangan selanjutnya, hingga dewasa ini epidemiologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang distribusi (penyebaran) dan determinan (faktor penentu) masalah kesehatan masyarakat yang bertujuan untuk membuat perencanaan dan pengambilan keputusan dalam menanggulangi masalah kesehatan. Sehingga epidemiologi tidak hanya mempelajari penyakit dan epideminya saja tetapi juga menyangkut masalah kesehata n secara keseluruhan.

Ada beberapa profesional kesehatan masyarakat yang memandang epidemiologi sebagai ilmu pengetahuan. Profesional lainnya memandang epidemiologi lebih sebagai suatu metode bukan sebagai ilmu murni karena ketidakjelasan definisi mengenai bidang ilmunya. Epidemiologi dapat diasumsikan sebagai suatu metode ilmiah. Epidemiologi adalah metode investigasi yang digunakan untuk mendeteksi penyebab atau sumber dari penyakit, sindrom, kondisi atau risiko yang menyebabkan penyakit, cedera, cacat atau kematian dalam populasi atau dalam suatu kelompok ( manusia. Seorang ahli epidemiologi sering kali dianggap sebagai seorang "detektif penyaklt atau epidemi".

Epidemiologi didefinisikan dengan berbagai cara. Salah satu defenisinya adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian, dan faktor yang memengaruhi frel<uensi dan distribusi penyakit kecacatan dan kematian dalam populasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian ciri pada distribusi status kesehatan, penyakit atau masalah l(esehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, geografi, agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, waktu, tempat, , orang, dan sebagainya.

Karakteristik ini dilakukan guna menjelaslkan distribusi suatu penyakit atau masalah yang terkait dengan kesehatan jika dihubungkan dengan faktor penyebab. Epidemiologi berguna untulk mengkaji dan mejelaskan dampak dari tindakan pengendalian kesehatan masyarakat, program pencegahan, intervensi klinis dan pelayanan kesehatan terhadap penyakit atau mengkaji dan menjelaskan faktor lain yang berdampak pada status kesehatan penduduk. Epidemiologi penyakit juga dapat menyertakan deskripsi keberadaannya didalam populasi dan faktor yang mengendalikan ada atau tidaknya penyakit tersebut.


selain berfokus pada tipe dan keluasan cedera, kondisi atau penyakit yang menimpa suatu kelompok atau populasi, epidemiologi juga menangani faktor risiko yang dapat menangani dampak, pengaruh, pemicu dan efek pada distribusi penyakit, cacat/defek, ketidakmampuan dan kematian. sebagai metode ilmiah epidemiologi digunakan untuk mengkaji pola kejadian yang mempengaruhi faktor diatas.

Tugas seorang ahli epidemiologi adalah :
1. menentukan ada atau tidaknya kenaikan atau penurunan faktor tersebut selama berbagai periode waktu - hari, minggu, bulan, tahun.
2. Penentuan apakah suatu daerah atau lokasi tertentu mengalami peningkatan atau penurunan yang lebih dibandingkan daerah atau lokasi lain.
3. Fokus pada karateristik manusia yang terlibat, apakah karateristik itu berbeda atau sama dalam  beberapa hal. Dengan kata lain, seorang ahli epidemiologi sangat berkepentingan dengan aspek waktu, tempat dan orang dari suatu kejadian penyakit, cacat/defek, ketidakmampuan dan kematian. Distribusi kondisi patologi dari populasi manusia atau faktor yang mempengaruhi distribusi tersebut semuanya menjadi subjek yang dibahas dalam epidemiologi.




Dasar Epidemiologi : Ruang Lingkup dan Penerapan Epidemiologi

Dasar Epidemiologi : 
Ruang Lingkup dan Penerapan Epidemiologi

C. Ruang Lingkup dan Penerapan Epidemiologi
Dalam sejarahnya, epidemiologi dikembangkan dengan menggunakan epidemik penyakit menular sebagai suatu model studi Landasan epidemiologi masih berpegang pada model penyakit, metode dan pendekatannya. Dahulu banyak metode dan pendekatan epidemiologi yang dikembangkan seiring dengan pencarian terhadap penyebab terjadinya berbagai penyakit menular dan epidemik yang sangat menghancurkan yang ada pada waktu itu. Pengetahuan dan pendekatan yang digunakan pada awal perkembangan ilmu epidemiologi ternyata masih berguna untuk ahli epidemiologi di masa modern ini.

Bahkan pada zaman dahulu, beberapa epidemik setelah ditelusuri ternyata berasal dari penyebab noninfeksius. Di tahun 1700, hasil penyelidikan james Lind terhadap penyakit skorbut mengarah pada kekurangan vitamin C dalam makanan sebagai penyebabnya. Penyakit defesiensi gizi lainnya dihubungkan dengan kekurangan vitamin A dan vitamin D. Beberapa studi telah menghubungkan keracunan timbal dengan beragam penyakit ringan, kolik, gout, keterbelakangan mental dan kerusakan saraf pada anak, pelukis, dan pengrajin tembikar. Contoh, hasil pengamatan menunjukkan bahwa pelukis di zaman dahulu yang menggunakan cat bertimbal dan sering menempelkan ujung kuas pada bibir dan lidahnya pada akhirnya akan menderita keracunan timbal, penyakit mental dan penyakit kronis sejenis. Observasi serupa juga dilakukan pada pengrajin tembikar yang menggunakan timbal untuk melapisi tembikarnya.

Dewasa ini, epidemiologi sudah terbukti efektif dalam mengembangkan hubungan sebab akibat pada kondisi noninfeksius seperti penyalahgunaan obat, bunuh diri, kecelakaan lalu lintas, keracunan zaat kimia, kanker dan penyakit jantung. Area epidemiologi penyakit kronis dan penyakit prilaku merupakan cabang ilmu epidemiologi yang paling cepat berkembang.

Sebagai metode ivenstigasi, epidemiologi merupakan landasan bidang kesehatan masyarakat pengobatan dan pencegahan. Epidemiologi digunakan untuk menentukan kebutuhan akan program pengendalian penyakit, untuk mengembangkan program pencegahan dan kegiatan perencanaan layanan kesehatan serta untuk menetapkan pola penyakit endemik, epidemik dan pandemik.

Endemi (awalan en- berarti "dalam atau di dalam") adalah berlangsungnya suatu penyakit pada tingkatan yang sama atau keberadaan suatu penyakit yang terus-menerus di dalam populasi atau wilayah tertentu - prevalensi suatu penyakit yang biasa berlangsung di satu wilayah atau kelompok tertentu.

Hiperendemi lawalan hyper- berarti "di atas") adalah istilah yang dihubungkan dengan endemi, tetapi iarang digunakan lstilah ini menyatakan aktivitas yang berkelanjutan melebihi prevalensi yang diperkirakan, sering dihubungkan dengan populasi tertentu, populasi yang kecil atau populasi yang jarang seperti yang ditemukan di rumah sakit, klinik bidan atau institusi lain. lstilah ini juga menunjukkan keberadaan penyakit menular dengan tingkat insidensi yang tinggi dan senantiasa melebihi angka prevalensi normal dalam populasi dan ternyata menyebar merata pada semua usia dan kelompok Keiadian endemi penyakit yang berhubungan, tetapi dengan tipe yang jelas berbeda disebut holoendemi.

Holoendemi (awalan holo- berarti "keseluruhan atau semua") menggambarkan suatu penyakit yang kejadiannya dalam populasi sangat banyak dan umumnya didapat di awal kehidupan pada sebagian besar anak dalam populasi. Prevalensi penyakit menurun sejalan dengan pertambahan usia kelompok sehingga penyakit lebih sedikit muncul pada orang dewasa dibandingkan pada anak. Penyakit yang sesuai untuk kategori ini adalah chickenpox pada iklim negara tropis, malaria. 

Epidemi adalah wabah atau munculnya penyakit tertentu yang berasal dari satu sumber tunggal dalam satu kelompok, populasi masyarakat atau wilayah yang melebihi tingkat kebiasaan yang diperkirakan. Epidemi terjadi jika kasus baru melebihi prevalensi suatu penyakit. 

Kejadian Luar Biasa (KLB) akut - peningkatan secara tajam dari kasus baru yang memengaruhi kelompok tertentu - biasanya juga disebut sebagai epidemi. Keparahan dan keseriusan penyakit juga mempengaruhi definisi suatu epidemi. Jika penyakit sifatnya mengancam kehidupan, hanya diperlukan sedikit kasus (seperti rabies) untuk menyebabkan terjadinya epidemi. 

Pandemi (awalan pan- berarti "semua atau melintasi") adalah epidemik yang menyebar luas melintasi negara, benua atau populasi yang besar, kemungkinan keseluruh dunia. Salah satu contoh adalah AIDS merupakan penyakit pandemi.

Dasar Epidemiologi : Tujuan Epidemiologi

B. Tujuan Epidemiologi

Menurut Lilienfeld dan Lilienfeld, ada tiga tujuan umum studi epidemiologi yang sudah diperbaharui yaitu:
1. Untuk menjelaskan etiologi (studi tentang penyebab penyakit) satu penyakit atau sekelompok penyakit, kondisi, gangguan, defek, ketidakmampuan, sindrom atau kematian melalui analisis terhadap data medis dan epidemiologi dengan menggunakan manajemen informasi sekaligus informasi yang berasal dari setiap bidang atau disiplin ilmu yang tepat, termasuk ilmu sosial/perilaku.

2. Untuk menentukan apakah data epidemiologi yang ada memang konsisten dengan hipotesis yang diajukan dan dengan ilmu pengetahuan, ilmu perilaku dan ilmu biomedis yang terbaru.



3. Untuk memberikan dasar bagi pengembangan langkah pengendalian dan prosedur pencegahan bagi kelompok dan populasi yang berisiko dan untuk pengembangan langkah dan kegiatan kesehatan masyarakat yang diperlukan yang kesemuanya itu akan digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan langkah, kegiatan dan Program intervensi.


PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI

1. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI MENURUT ASAL KATA
Jika ditinjau dari asal kata Epidemiologi berasal dari bahasa Yunai yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu EPI yang berarti PADA atau TENTANG, DEMOS yang berati PENDUDUK dan kata terakhir adalalah LOGOS yang berarti ILMU PENGETAHUAN. Jadi EPIDEMILOGI adalah ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG PENDUDUK.

Sedangkan dalam pengertian modern pada saat ini EPIDEMIOLOGI adalah : “Ilmu yang mempelajari tentang Frekuensi dan Distribusi (Penyebaran) serta Determinat masalah kesehatan pada sekelompok orang/masyarakat serta Determinannya (Faktor – factor yang Mempengaruhinya). Suatu ilmu yang awalnya mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan pada penyakit infeksi menular. Tapi dalam perkembangannya hingga saat ini masalah yang dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena itu, epidemiologi telah menjangkau hal tersebut.

2. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI MENURUT PENDAPAT PARA AHLI
Sebagai ilmu yang selalu berkembang, Epidemiologi senantiasa mengalami perkembangan pengertian dan karena itu pula mengalami modifikasi dalam batasan/definisinya. Beberapa definisi telah dikemukakan oleh para pakar epidemiologi, beberapa diantaranya adalah :

1. Greenwood ( 1934 )
Mengatakan bahwa Epidemiologi mempelajari tentang penyakit dan segala macam kejadian yang mengenai kelompok ( herd ) penduduk. Kelebihannya adalah adanya penekanan pada Kelompok Penduduk yang mengarah kepada Distribusi suatu penyakit.

2. Brian Mac Mahon ( 1970 )
Epidemiology is the study of the distribution and determinants of disease frequency in man.
Epidemiologi adalah Studi tentang penyebaran dan penyebab frekwensi penyakit pada manusia dan mengapa terjadi distribusi semacam itu. Di sini sudah mulai menentukan Distribusi Penyakit dan mencari Penyebab terjadinya Distribusi dari suatu penyakit.

3. Wade Hampton Frost ( 1972 )
Mendefinisikan Epidemiologi sebagai Suatu pengetahuan tentang fenomena massal ( Mass Phenomen ) penyakit infeksi atau sebagai riwayat alamiah ( Natural History ) penyakit menular. Di sini tampak bahwa pada waktu itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang terjadi/mengenai masyarakat/massa.

4. Anders Ahlbom & Staffan Norel ( 1989 )
Epidemiologi adalah Ilmu Pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada populasi manusia.


5. Gary D. Friedman ( 1974 )

Epidemiology is the study of disease occurance in human populations.


6. Abdel R. Omran ( 1974 )

Epidemiologi adalah suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk, begitu juga determinannya serta akibat – akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.

7. Barbara Valanis
Epidemiology is term derived from the greek languang ( epid = upon ; demos = people ; logos = science ).

8. Last ( 1988 )
Epidemiology is study of the distribution and determinants of health – related states or events in specified population and the application of this study to control of problems.

9. Elizabeth Barrett
Epidemiology is study of the distribution and causes of diseases.


10. Hirsch ( 1883 )
Epidemiologi adalah suatu gambaran kejadian, penyebaran dari jenis – jenis penyakit pada manusia pada saat tertentu di berbagai tempat di bumi dan mengkaitkan dengan kondisi eksternal

11. Judith S. Mausner ; Anita K. Bahn
Epidemiology is concerned with the extend and types of illness and injuries in groups of people and with the factors which influence their distribution.

12. Robert H. Fletcher ( 1991 )
Epidemiologi adalah disiplin riset yang membahas tentang distribusi dan determinan penyakit dalam populasi.

13. Lewis H. Rohf ; Beatrice J. Selwyn
Epidemiology is the description and explanation of the differences in accurence of events of medical concern in subgroup of population, where the population has been subdivided according to some characteristic believed to influence of the event.

14. Lilienfeld ( 1977 )
Epidemiologi adalah suatu metode pemikiran tentang penyakit yang berkaitan dengan penilaian biologis dan berasal dari pengamatan suatu tingkat kesehatan populasi.

15. Moris ( 1964 )
Epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang sehat dan sakit dari suatu penduduk.

16. Prof Nasry Noor



3. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEK
1. Aspek Akademik
Secara akademik, epidemiologi berarti Analisa data kesehatan, sosial-ekonomi, dan trend yang terjadi untuk mengindentifikasi dan menginterpretasi perubahan-perubahan kesehatan yang terjadi atau akan terjadi pada masyarakat umum atau kelompok penduduk tertentu.
2. Aspek Klinik
Ditinjau dari aspek klinik, Epidemiologi berarti Suatu usaha untuk mendeteksi secara dini perubahan insidensi atau prevalensi yang dilakukan melalui penemuan klinis atau laboratorium pada awal timbulnya penyakit baru dan awal terjadinya epidemi.
3. Aspek praktis
Secara praktis epidemiologi berarti ilmu yang ditujukan pada upaya pencegahan penyebaran penyakit yang menimpa individu, kelompok penduduk atau masyarakat umum.
4. Aspek Administrasi
Epidemiologi secara administratisi berarti suatu usaha mengetahui keadaan masyarakat di suatu wilayah atau negara agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan masyarakat



4. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI MENURUT CENTER OF DISEASE CONTROL (CDC) 2002
Adapun definisi Epidemiologi menurut CDC 2002, Last 2001, Gordis 2000 menyatakan bahwa EPIDEMIOLOGI adalah : “ Studi yang mempelajari Distribusi dan Determinan penyakit dan keadaan kesehatan pada populasi serta penerapannya untuk pengendalian masalah – masalah kesehatan “. Dari pengertian ini, jelas bahwa Epidemiologi adalah suatu Studi ; dan Studi itu adalah Riset. Kemudian apakah Riset itu…..?? Menurut Leedy (1974), Riset adalah “ a systematic quest for undiscovered truth”. ( Artinya : Pencarian sistematis terhadap kebenaran yang belum terungkap


5. PENGERTIAN EPIDEMIOLOGI MENURUT WHO
“Studi ttg distribusi dan determinan kesehatan yg berkaitan dgn kejadian di populasi dan aplikasi dari studi utk pemecahan masalah kesehatan.”


6. Referensi :
1. Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
2. Bustan MN ( 2002 ). Pengantar Epidemiologi, Jakarta, Rineka Cipta
3. Nasry, Nur dasar-dasar epidemiologi